Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan obat penekan asam lambung membawa risiko tersendiri.

Risiko Patah Tulang

Sebuah studi kohort prospektif melaporkan bahwa terjadi peningkatan patah tulang pada pasien yang menggunakan obat penekan asam lambung. Pada pasien yang sedang mengkonsumsi obat penekan asam lambung, risiko patah tulang meningkat 1,15 kali, lebih spesifiknya 1,22 kali untuk patah tulang panggul dan 1,40 kali untuk patah tulang belakang. Mekanisme pasti yang menyebabkan peningkatan risiko ini masih belum jelas, namun diduga berkaitan dengan malabsorbsi kalsium yang diakibatkan oleh efek alkali obat penekan asam lambung.

Risiko Kanker Saluran Cerna

Penggunaan obat penekan asam lambung, terutama omeprazole dibandingkan dengan ranitidine, dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan jaringan lambung.

Sebuah studi kasus kontrol melaporkan bahwa penggunaan obat penekan asam lambung jangka panjang berhubungan dengan peningkatan 5 kali lipat terhadap keganasan pada kerongkongan dan peningkatan 4 kali lipat terhadap keganasan pada lambung.

Risiko Infeksi Paru

Tinjauan sistematik dan meta analisis yang dipublikasikan pada tahun 2010 melaporkan bahwa penggunaan obat penekan asam lambung meningkatkan risiko terjadinya infeksi paru. Risiko ini meningkat sebanyak 1,27 kali pada penggunaan omeprazole dan 1,22 kali pada penggunaan ranitidin.

Obat Penekan Asam Lambung yang Paling Efektif

Golongan proton pump inhibitor (PPI) seperti omeprazole dinilai lebih efektif dibandingkan obat lain dalam mengobati gejala maag. Sebuah studi yang dilakukan oleh Meinecke-Schmidt et al melaporkan bahwa penggunaan omeprazole 20 mg dapat sepenuhnya mengobati gejala hanya dalam 2 minggu. Hal ini lebih efektif dibandingkan dengan ranitidin yang memerlukan 4 minggu.

Kesimpulan

Obat penekan asam lambung, seperti omeprazole dan ranitidin, merupakan obat yang sangat sering digunakan pada pasien dengan penyakit maag. Penggunaan golongan obat penekan asam lambung yang dilaporkan paling efektif adalah golongan omeprazole. Namun, penggunaan obat penekan asam lambung juga dikaitkan dengan peningkatan risiko patah tulang, peningkatan risiko keganasan saluran cerna, dan infeksi paruparu. Ada baiknya dilakukan skrining risiko sebelum penggunaan obat penekan asam lambung jangka panjang, misalnya pemeriksaan kepadatan (densitas) tulang.